Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

SEJARAH ISLAM DI PULAU MADURA

SEJARAH ISLAM DI MADURA

Peta Pulau Madura

  Bukan suatu hal yang berlebihan apabila seseorang mengatakan bahwa Islamisasi Madura berjalan sukses sehingga berhasil dan kini tak seorang pun penduduk Madura yang bukan Muslim. Kalau pun ada yang bukan Muslim, maka bisa dipastikan mereka itu pendatang baru. Namun, sejak kapan dan bagaimana semua itu bermula, amat sukar dirajut dengan sempurna. Ibarat benang kusut, sejarah proses Islamisasi Madura ini belum dan tidak terdokumentasi dengan rapi. Mitos dan legenda banyak mewarnai kisah-kisah seputar Islamisasi penduduk pulau garam ini. Beberapa kajian akademis yang hadir belakangan terlalu banyak yang mengangkat Madura dari segi budaya an sich, sehingga terkesan melupakan peran tokoh-tokoh ulama-ulama yang membawanya. Tulisan ini coba mengungkap sejarah Islamisasi Madura pada periode awal, yaitu masa peralihan agama primitif orang Madura kepada Islam.
Agama Primitif Madura
   Terletak di seberang timur laut pulau Jawa, pulau Madura dikatakan mulanya hanya terdiri dari gundukan-gundukan tanah yang kadang tampak hijau dari kejauhan tatkala air laut surut namun ‘hilang’ dari pandangan bila air laut pasang. Sebab itulah orang Jawa menyebutnya “Lemah Dhuro” yakni tanah yang tidak sesungguhnya; kadang terlihat dan kadang raib. Bahkan sampai sekarang pun masih ada orang Jawa yang memanggil orang Madura itu “Wong Dhuro”.
Sejarah lisan (legenda) masyarakat Madura mengatakan bahwa nenek moyang penduduk Madura berasal dari pulau Jawa, yaitu Raden Segoro, putra seorang raja dari negara Medangkamulan di dekat gunung Semeru dan Bromo. Meski sukar untuk dipastikan historisitasnya, keberadaan tokoh Raden Segoro dan Kyai Poleng begitu kuat dipercaya oleh masyarakat turun-temurun. Maka tak mengherankan kalau sejarah Madura terkait erat dengan sejarah Jawa. Kerajaan-kerajaan Madura sejatinya merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan besar di Jawa, mulai dari Kediri, Singasari, Majapahit dan Mataram. Oleh karena itu, pada zaman pra-Islam, penduduk Madura umumnya beragama Hindu-Buddha, sebagaimana masyarakat jawa pada umumnya.
Namun demikian, sejarawan mengakui sangat kesulitan untuk merekonstruksi masa pengaruh Hindu-Budha di Madura ini karena kelangkaan sumber sejarah. Hanya ada beberapa candi baik di Pamekasan dan Sumenep sebagai bukti bahwa agama Hindu-Budha pernah dianut masyarakat Madura. De Graaf mengakui, untuk merekonstruksi sejarah Jawa, termasuk Madura, terpaksa menggali dari sumber yang keruh. Diperkirakan pengaruh Hindu-Budha yaitu sejak abad ke 9, sejak berkembangnya cerita Raden Segoro, sampai sekitar abad ke 15, yakni setelah mulai berkembangnya masyarakat mengenal Islam lalu memeluknya. Pengaruh kuat Hindu-Budha juga diperkuat dengan adanya catatan bahwa di abad-abad itu secara berturut-turut Madura dibawah pengaruh Kediri (1050-1222), Singosari (1222-1292) dan Majapahit (1294-1572), yang kesemuanya beragama Hindu dan Budha. Sebab itu, istilah “Madura” tidak jarang disebut-sebut dalam tulisan-tulisan orang Hindu sebagaimana dalam Pararaton yang menyebut istilah “Madura Wetan”, Madura bagian timur, yakni Sumenep.
Sampai di sini agama primitif orang Madura bisa dipastikan tidak jauh berbeda dengan masyarakat Jawa pra Islam, yaitu Hindu-Budha. Adapun agama selain itu adalah agama baru yang datang kemudian, termasuk Islam dan Kristen. Selanjutnya akan dijabarkan proses Islamisasi Madura.
Islamisasi Madura
Proses Islamisasi Madura boleh dibilang suatu proyek dakwah yang menuai hasil yang luar biasa. Proyek dakwah ini sebenarnya adalah kelanjutan dari mega proyek Islamisasi Nusantara yang sangat massif di antara abad ke-7 hingga abad ke-15 melalui tangan-tangan ikhlas para juru dakwah yang di Jawa dikenal dengan Wali Songo. Madura juga menjadi bagian agenda mega proyek ini.
Namun demikian, sepertinya perlu kerja keras untuk membangun sejarah Islamisasi Madura ini agar tersusun secara utuh. Hal ini karena fakta telah berbaur dengan legenda. Stories, myths and legends are to be foundin abundance, kata Lik Arifin Mansurnoor, dalam penelitiannya tentang peran ulama dalam Islamisasi Madura. Oleh karenanya, bukan suatu yang mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: sejak kapan Islamisasi Madura? Siapa yang pertama kali menyebarkan Islam di Madura? Melalui apa penyebarannya? Bagaimana cara konversi agama sebelumnya ke agama Islam? Setidaknya, ada dua jalur Islamisasi Madura yang bisa dielaborasi, yaitu jalur kerajaan dan jalur para da’i atau yang lebih dikenal para sunan.
Peran Sunan-Sunan di Madura
Islamisasi Jawa oleh para Sunan sangat luas imbasnya, termasuk Madura menjadi obyek proyek besar mereka. Sunan yang kemudian dikenal dengan Walisongo memang tidak secara langsung menyebarkan Islam ke pulau ini. Namun demikian, pengaruh agama baru yang mereka bawa betul-betul dirasakan hingga ke pelosok-pelosok kampung di Madura. Islam betul-betul menjadi tren di masyarakat luas waktu itu.
Sunan Ampel dan Cina Muslim di Sumenep
Dakwah yang disiarkan oleh Sunan Ampel sudah berpengaruh luas hingga ke pelosok Madura. Berita tentang adanya agama baru yang memberi harapan sudah sekian jauh menggema di sanubari masyarakat. Secara sukarela satu persatu masuk Islam. Tak terdapat suatu paksaan dalam konversi agama ini. Namun magnet Islam sudah terlalu kuat di hati orang-orang Hindu maupun Budha karena dalam Islam terdapat kekuatan cara pandang yang canggih dan baru bagi mereka.
Memang, jejak-jejak Sunan Ampel tidak terlalu terekam di Madura ini secara jelas. Namun dipastikan aroma dakwahnya senantiasa memancing keingintahuan. Salah satunya dalam kisah Aria Lembu Petteng yang merupakan putra dari Prabu Kertabumi, Raja Majapahit Brawijaya ke V, yang dikirim ke Sampang untuk menjadi Kamituo. Karena tidak tega mendengar rintihan batinnya, ia pun berangkat ke Ampel Delta belajar Islam dan menjadi Muslim kepada Sunan Ampel dan akhirnya meninggal di Ampel. Sayangnya tidak sempat kembali lagi ke Sampang untuk menyiarkan Islam di sana. Sehingga anak-anaknya masih juga dengan agama primitifnya yaitu Hindu. Baru pada masa cucu-cunya ketika kabar Islam sudah semakin santer di masyarakat sudah banyak yang berpindah agama.
Di Sumenep bagian utara, tepatnya di Kecamatan Pasongsongan, terdapat kisah menarik mengenai sebuah perkampungan yang didiami orang-orang Cina Muslim. Mereka mengklaim sebagai keturunan Cina yang masih termasuk santri Sunan Ampel di Ampel Surabaya. Konon mereka mendiami Madura sejak zaman maraknya penyebaran dakwah di jawa melalui tangan-tangan para sunan, utamanya Sunan Ampel di Surabaya. Tercatat, Sumenep sebagai lokasi paling timur Madura yang lebih awal mengalami kemajuan peradaban yang ternyata mempunyai jejak-jejak historis masyarakat Cina yang sudah beragama Islam.
Tercatat bahwa interaksi orang-orang Cina dengan Madura bagian timur ini diperkirakan sejak tentara Mongol dikalahkan Majapahit pada abad ke 13 dimana Aria Wiraraja punya andil besar dalam strategi perang Majapahit ketika itu. Konon, orang-orang Cina sisa-sisa prajurit Tartar itu terperangkap siasat yang dilancarkan oleh Aria Wiraraja sehingga mereka tidak bisa kembali lagi ke negara asalnya. Sumenep kembali berbenturan dengan pasukan Cina ketika terjadi perang dengan pasukan Jokotole pimpinan Dempo Awang di abad ke 15. Orang-orang Cina ini semakin banyak di Madura utamanya di Sumenep ketika VOC sudah mulai menembus perkampungan Madura sejak abad ke 17-19, dimana orang-orang Cina ikut serta meramaikan perhelatan ekonomi di pulau garam ini.
Di mana-mana, orang-orang Cina biasanya beragama Konghucu atau Budha. Namun, belakangan banyak ditemukan agama mereka yang sudah berpindah ke Katolik maupun protestan karena alasan-alasan strategis pragmatis, seperti keamanan dan ketenteraman, utamanya dalam berbisnis. Di mana-mana orang-orang Cina juga dimusuhi oleh penduduk setempat termasuk penduduk Islam di Madura karena perbedaan agama. Oleh karena itu, sangat wajar apabila sentra orang-orang Cina itu lebih memilih bertahan di perkotaan karena akan lebih aman dan lebih mudah melakukan aktivitas ekonomi. Dengan kegigihan dalam berniaga, hampir di seluruh perkotaan Madura orang-orang Cina menguasai ekonomi dan pasar strategis yang berpusat di kota.
Fakta itu setidaknya bisa dipahami secara jamak. Namun, suatu hal yang cukup unik, bahwa di masyarakat Cina di Kecamatan Pasongsongan ini sudah Muslim, hidup di perkampulan muslim, berbaur dengan masyarakat Muslim asli Madura. Sebuah pertanyaan mungkin akan muncul, mengapa orang-orang Cina bisa hidup di kampung yang jauh dari perkotaan? Lalu mengapa juga mereka beragama Islam, padahal pada umumnya orang-orang Cina beragama Konghucu?
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Moh. Ali Al-Humaidi menunjukkan bahwa orang-orang Cina memang selalu terdiskriminasi secara ras. Dengan begitu, secara pragmatis apabila ingin bertahan di daerah-daerah pedalaman, maka mau tidak mau harus menjalani akulturasi dengan budaya dan agama setempat. Sehingga bisa saja menjadi alasan perpindahan agama kepada Islam adalah karena alasan pragmatis. Namun demikian, hasil observasi Ali Al-Humaidi ini mencatat, bahwa orang-orang Cina di kampung ini sudah Muslim dari nenek moyang mereka.
Diceritakan, nenek moyang mereka masih bermarga King, sehingga nama depan mereka memakai “K”, merupakan santri dari Sunan Ampel. Ia bernama Kingpangkeng yang makamnya saat ini di Ampel Surabaya. Ia diambil menantu oleh kerajaan Sriwijaya yang kemudian mempunyai dua orang putri, yaitu Teisi dan Caul. Caul dinikahkan dengan sepupunya yang bernama Biangseng. Akhirnya Caul meninggal dan kemudian Biangseng dinikahkan dengan adiknya yaitu Teisi. Dari pasangan Biangseng dan Tiesi kemudian dikaruniai anak bernama Cabun. Setelah meninggal, Biangseng oleh Sriwijaya dikuburkan di Ampel dan diberi gelar Tumenggung Ongkowijoyo. Orang-orang Pasongsongan mengklaim bahwa Ongkowijoyo yang berguru langsung ke Sunan Ampel itu adalah nenek moyang mereka. Mereka menyebutnya dengan “Pujuk Ampel”.
Menurut hasil observasi ini, proses migrasi etnis Cina ke Sumenep diperkirakan pada abad ke 14. Sebagian keturunan Biangseng kemudian diambil menantu oleh kerjaan Sumenep di masanya Aria Wiraraja karena Biangseng sendiri adalah dari kalangan Bangsawan Cina sehingga mudah diterima oleh keluarga kerajaan Sumenep. Orang-orang Cina keturunan di kampung ini meyakinkan bahwa, nenek moyang mereka ini merupakan murid langsung dari Sunan Ampel di Surabaya. Tidak hanya itu, disebutkan juga bahwa ketika menetap di Pasongosngan, di sana juga terdapat Murid Sunan Ampel yang lain yang bernama Kyai Ali Akbar yang kemungkinan besar dikirim untuk menyebarkan dakwah Islam dan sesepuh Cina itu menambah ilmu keislamannya kepadanya. Bersama ulama ini Islam disebarkan di daerah Pesisir utara Madura.
Peran Sunan Kudus di Pamekasan
Pamelingan adalah nama kerajaan kecil sebelum nama Pamekasan. Kerajaan sebelah Barat Sumenep ini mempunyai Raja yang dikenal sangat bijak, negarawan dan ahli strategi. Ia dikenal dengan Panembahan Ronggosukowati. Keislamannya sejak ia masih remaja. Tercatat bahwa masa remajanya Ronggosukowati pernah Nyantri kepada Sunan Giri atau yang dikenal dengan Raden Paku. Setelah dewasa dan ilmu yang dia dapatkan terasa cukup maka segera kembali ke Pamelingan untuk menggantikan posisi ayahandanya yang sudah usia lanjut. Namun, sebagaimana disebutkan di atas, kepulangannya tidak sendirian. Sunan Giri berinisiatif mengirimkan juru dakwah yang nantinya akan mendampingi Ronggosukowati menyiarkan Islam kepada masyarakat Pamelingan. Juru dakwah itu kemudian dikenal dengan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bil Faqih.
Tentu saja Sunan Giri sangat mengerti proses Islamisasi di Pamekasan akan lebih maksimal jika dibantu oleh seorang “misionaris” (da’i) yang mempuni. Sayyid Abdurrahman sebagai utusan Sunan Giri memainkan peranan yang penting di sini. Tentu saja dengan kemahirannya rakyat Pamekasan dengan cepat menerima dakwah yang dikembangkannya. Maka wajar apabila keberpihakan Ronggosukowati terhadap dakwah itu sangat dibantu oleh Sayyid Abdurrahman. Sang juru dakwah ini akhirnya dikawinkan dengan keluarga kraton agar tidak meninggalkan Pamekasan nantinya.
Sebagai keturunan Arab, dialah yang memelopori pemukim Arab di Pamekasan ini. Kemudian keturunan-keturunannya banyak melakukan perkawinan dengan penduduk setempat sehingga mempercepat proses akulturasi dan mempermudah penyebaran Islam di kalangan penduduk. Bahkan, pembauran besar-besaran antara orang-orang Arab dengan masyarakat di Pamekasan khususnya dan di Madura pada umumnya terjadi pada abad-abad berikutnya, khususnya setelah terusan Suez mulai dibuka pada tahun 1869, di mana waktu itu para pemuka-pemuka Islam di Nusantara, termasuk Madura memperoleh kemudahan belajar langsung ke negara-negara Arab, khususnya di Mekkah al-Mukarramah. Demikian juga, waktu itu arus orang-orang Arab dari Hadramaut yang tentunya dengan para da’inya semakin banyak masuk ke Indonesia. Tidak terlupakan Madura menjadi salah satu tujuan mereka. Bahkan, pemuka-pemuka dari Arab itu menetap di Pamekasan dan menjadi penyiar agama Islam yang terkemuka.
Kesimpulan
Walaupun secara empiris bukti sejarah tidak terlalu terang dalam proses Islamisasi Madura periode awal ini, yaitu sebelum Madura ditaklukkan oleh Sultan Agung Mataram pada abad 16 ke atas, namun sejauh ini bisa disimpulkan bahwa orang-orang Madura bermigrasi dari agama primitif mereka, yaitu Hindu-Budha, kepada agama yang sama sekali baru dan mencerahkan, yaitu Islam, dengan cara yang damai tanpa pertumpahan darah setetes pun. Tentu saja itu karena daya magnet agama fitrah itu terlalu kuat. Itu menandakan ada kebutuhan sanubari yang mendalam yang belum tersalurkan sebelumnya.
Para penyiar Islam datang ke Madura pada waktu yang tepat. Yakni ketika kemapanan Majapahit dengan Hindu-Budanya sudah sedemikian lemah waktu itu, sehingga terasa perlu mencari alternatif-alternatif, dan keluarga-keluarga bangsawan kerajaan dibiarkan saja dan tidak dihalang-halangi bermigrasi ke agama lain. Seiring dengan itu, pesona agama Islam memang memikat semua orang tawaran worldview yang menakjubkan.
Hilir mudik para da’i dari Hadramaut maupun dari negara-negara Arab lainnya menandakan ada usaha Islamisasi yang serius dan terencana dari mereka. Prosesnya pun tergolong unik karena mereka datang bukan dengan pedang. Tapi mereka datang dengan agama dan peradaban yang mendamaikan dan menenteramkan.
Oleh karena itu, tak jarang para da’i diterima menjadi menantu oleh raja-raja. Proses seperti ini menjadi salah satu strategi penting dalam Islamisasi, termasuk di Madura, seperti kisah Sunan Paddusan yang menjadi menantu Jokotole di Sumenep dan kisah Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bil Faqih yang menjadi akhirnya menjadi bagian dari keluarga Ronggosukowati di Pamekasan.
Dilihat dari pola penyebarannya, sangat layak diduga bahwa Islam disebarkan dengan pengiriman juru dakwah ke berbagai tempat, utamanya yang sudah ramai, dengan berbagai media dan cara, mulai dari media perniagaan, silang budaya, dan tentunya tebar pesona worldview Islam. Tentu agama baru yang disiarkan mesti mempunyai keunggulan-keunggulan lebih dari agama primitif masyarakat, mulai cara hidup, tingkah laku, pola interaksi, pola pikir, bahkan dari sisi kecanggihan teknologi. Semua itu agama baru yang mereka bawa ini ternyata memberikan harapan.
Namun demikian, Islamisasi periode awal ini masih menyisakan pertanyaan, apakah seratus persen penduduk Madura berhasil diislamkan? Tentu saja ini perlu kajian lebih detail dan mendalam lagi. Namun, patut diduga, bahwa periode awal ini tidak seluruhnya bermigrasi ke agama Islam. Oleh karena itu, sangat tepat Sultan Agung Mataram menginisiatif menguasai pulau Garam ini agar yang beragama primitif tak tersisa lagi. Namun sayangnya, sumber-sumber sejarah didominasi oleh rujukan penjajah Belanda, sehingga tergambarkan bahwa Mataram bengis dan brutal di Madura. Mataram datang dengan haus darah dan kekuasaan. Wallahua’lam, hanya Allah yang tahu semua itu. Namun yang pasti diketahui semuanya bahwa seratus persen orang Madura berislam sebagai hasil dari usaha gemilang Islamisasi oleh para da’i-da’i cemerlang.

ASAL USUL KOTA BATU

ASAL USUL KOTA BATU
Pemandangan kota Batu Dari Gunung Banyak
Sejak abad ke-10, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan karena wilayahnya adalah daerah pegunungan dengan kesejukan udara yang nyaman, juga didukung oleh keindahan pemandangan alam sebagai ciri khas daerah pegunungan.

Pada waktu pemerintahan Raja Sendok (Mpu Sendok), seorang petinggi kerajaan bernama Mpu Supo diperintahkan Raja Sensok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di daerah pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras, guna menemukan tempat peristirahatan seperti yang diinginkan oleh raja, akhirnya Mpu Supo yang konon kabarnya sakti mandraguna memulai membangunn kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan kelurga kerajaan serta dibangunnya sebuah candi yang diberi nama Candi Supo.

Sebagaiamana keinginan raja bahwa di tempat peristirahatan dimaksud harus terhadap sumber atau dekat dengan mata air, maka di tempat peristirahatan itupun terdapat sumber mata air yang mangalir dingin seperti semua mata air diwilayah pegunungan.

Mata air dingin tersebut sering digunakan mencari keris-keris bertuah sebagai benda pusaka dari Kerajaan Sendok. Oleh karena sumber mata air yang sering digunakan untuk mencari benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural yang dahsyat, akhirnya yang semula sumber mata air yang terasa dingin menjadi sumber mata air panas. Sumber mata air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Dari beberapa pemuka masyarakat setempat memang pernah mengisahkan bahwa sebutan Batu berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut juga Kyai Gabung Angin yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu. Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek atau mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang, juga agar lebih singkat penyebutannya serta lebih cepat lebih memanggil seseorang akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau batu sebutan yang digunakan untuk Kota Dingin di Jawa Timur.

Sedikit menengok ke belakang tentang sejarah Abu Ghonaim sebagai cikal bakal serta orang yang dikenal sebagai pemuka masyarakat yang memulai babat alas dan dipakai sebagai inspirasi dari sebutan wilayah Batu,sebenarnya Abu Ghonaim sendiri adalah berasal dari Jawa Tengah.Abu Ghonaim sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang setia, dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah dan hijrah di kaki Gunung Panderman ini adalah untuk menghindari pengejaran dan penangkapan dari serdadu Belanda (Kompeni) terhadap semua pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro dengan licik dan tipu muslihat berpura-pura mengajak berunding dengan Pangeran Diponegoro yang ternyata bermaksud menangkapnya dan membuang ke Makassar hingga wafatnya.Kejadian ini diperkirakan setelah terjadi perang Diponegoro (1825-1830).

Abu Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan barunya bersama masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa,pengetahuan dan ajaran yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro, akhirnya banyak penduduk di daerah sekitarnya berdatangan dan menetap untuk menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu.Bermula mereka hidup dalam kelompok di daerah Bumiaji, Sisir, dan Temas.

Sebagaimana layaknya wilayah pegunungan yang subur, Batu dan sekitarnya juga memiliki panorama alam yang indah dan berudara  sejuk.Tentunya hal ini akan menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri. Untuk itulah di awal abad ke-19 Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda sehingga akhirnya orang-orang (bangsa) Belanda itupun membangun villa-villa sebagai tempat peristirahatan.


Sejak abad ke-10, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan karena wilayahnya adalah daerah pegunungan dengan kesejukan udara yang nyaman, juga didukung oleh keindahan pemandangan alam sebagai ciri khas daerah pegunungan.

Pada waktu pemerintahan Raja Sendok (Mpu Sendok), seorang petinggi kerajaan bernama Mpu Supo diperintahkan Raja Sensok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di daerah pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras, guna menemukan tempat peristirahatan seperti yang diinginkan oleh raja, akhirnya Mpu Supo yang konon kabarnya sakti mandraguna memulai membangunn kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan kelurga kerajaan serta dibangunnya sebuah candi yang diberi nama Candi Supo.

Sebagaiamana keinginan raja bahwa di tempat peristirahatan dimaksud harus terhadap sumber atau dekat dengan mata air, maka di tempat peristirahatan itupun terdapat sumber mata air yang mangalir dingin seperti semua mata air diwilayah pegunungan.

Mata air dingin tersebut sering digunakan mencari keris-keris bertuah sebagai benda pusaka dari Kerajaan Sendok. Oleh karena sumber mata air yang sering digunakan untuk mencari benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural yang dahsyat, akhirnya yang semula sumber mata air yang terasa dingin menjadi sumber mata air panas. Sumber mata air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Dari beberapa pemuka masyarakat setempat memang pernah mengisahkan bahwa sebutan Batu berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut juga Kyai Gabung Angin yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu. Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek atau mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang, juga agar lebih singkat penyebutannya serta lebih cepat lebih memanggil seseorang akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau batu sebutan yang digunakan untuk Kota Dingin di Jawa Timur.

Sedikit menengok ke belakang tentang sejarah Abu Ghonaim sebagai cikal bakal serta orang yang dikenal sebagai pemuka masyarakat yang memulai babat alas dan dipakai sebagai inspirasi dari sebutan wilayah Batu,sebenarnya Abu Ghonaim sendiri adalah berasal dari Jawa Tengah.Abu Ghonaim sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang setia, dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah dan hijrah di kaki Gunung Panderman ini adalah untuk menghindari pengejaran dan penangkapan dari serdadu Belanda (Kompeni) terhadap semua pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro dengan licik dan tipu muslihat berpura-pura mengajak berunding dengan Pangeran Diponegoro yang ternyata bermaksud menangkapnya dan membuang ke Makassar hingga wafatnya.Kejadian ini diperkirakan setelah terjadi perang Diponegoro (1825-1830).

Abu Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan barunya bersama masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa,pengetahuan dan ajaran yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro, akhirnya banyak penduduk di daerah sekitarnya berdatangan dan menetap untuk menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu.Bermula mereka hidup dalam kelompok di daerah Bumiaji, Sisir, dan Temas.

Sebagaimana layaknya wilayah pegunungan yang subur, Batu dan sekitarnya juga memiliki panorama alam yang indah dan berudara  sejuk.Tentunya hal ini akan menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri. Untuk itulah di awal abad ke-19 Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda sehingga akhirnya orang-orang (bangsa) Belanda itupun membangun villa-villa sebagai tempat peristirahatan.


16 Fakta Negara Indonesia yang belum banyak diketahui Orang


Assalamualaikum Wr. Wb.
Banyak fakta bangsa dan negara kita, Indonesia yang belum diketahui banyak orang. Langsung saja simak fakta - fakta berikut :
1. Negara yang Disegani
Indonesia pernah menjadi negara yang paling ditakuti dan disegani di masa pemerintahan Ir. Soekarno
2. Proklamator
Semua orang pasti tau bahwa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta adalah yang memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun sampai detik ini pun, tidak ada nama jalan "Soekarno-Hatta" di Jakarta, kota tempat dibacakannya proklamasi. Nama mereka pun baru diabadikan menjadi nama bandara pada tahun 1985 yaitu 40 tahun setelah Indonesia merdeka. Lebih parahnya lagi, pemerintah baru secara resmi menyematkan gelar "proklamator" kepada mereka pada tahun 1986, atau 16 tahun setelah Soekarno wafat.
3. Ibu Kota
Belum ada negara di dunia yang berganti ibu kota selama empat kali dalam kurun waktu relatif singkat kecuali Indonesia, yakni Batavia atau Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948), Bukittinggi (1948-1949), Jakarta (1950-sekarang).
4. Sepakbola
Rakyat Indonesia pernah sekali tampil pada perhelatan Piala Dunia FIFA pada tahun 1938, namun bukan membawa bendera Indonesia, melainkan Hindia Belanda. Meskipun Indonesia memiliki jumlah penduduk paling banyak ke-4 di dunia dan Brazil di peringkat ke-5, namun prestasi sepakbola kedua negara tersebut berbeda jauh.
5. Hutan
Indonesia terkenal dengan keanekaragaman hayatinya yang luas. Hutan Indonesia yang luasnya mencapai 138 juta hektar merupakan tempat hidup bagi 11% spesies tumbuhan dunia, 10% spesies mamalia dunia, dan 16% spesies burung dunia. Meskipun demikian, pada tahun 2008, Indonesia tercatat dalam Guinness Book of World Records sebagai negara yang paling kencang laju kerusakan hutannya di dunia, yakni sekitar 1,8 juta hektar hutan setiap tahun.
6. Pulau
Dengan 17.508 pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Disinilah 3 dari 6 pulau terbesar di dunia berada : Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Namun jangan heran bahwa hampir 60% penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa, padahal luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah Indonesia. Uniknya lagi, ada empat pulau yang kedaulatannya dikuasai bersama-sama dengan pemerintah negara tetangga. Pulau Kalimantan secara administratif dikuasai tiga pemerintahan yaitu Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Pulau Papua dikuasai Indonesia dan Papua Nugini. Pulau Timor dikuasai Indonesia dan Timor Leste, dan yang terakhir Pulau Sebatik dikuasai Indonesia dan Malaysia.
7. Angka
Penyebutan angka 1-9 dalam huruf Bahasa Indonesia mengandung misteri. Jika kita menjumlahkan dua angka yang huruf awalannya sama, maka hasilnya selalu sama yaitu sepuluh.
Contoh :
Berawalan S -> Satu + Sembilan = Sepuluh
Berawalan D -> Dua + Delapan = Sepuluh
Berawalan T -> Tiga + Tujuh = Sepuluh
Berawalan E -> Empat + Enam = Sepuluh
Bahkan L -> Lima + Lima = Sepuluh
8. Latah
Latah merupakan penyakit syaraf yang gejalanya muncul ketika dikageti, atau tanpa sadar suka mengulangi perkataan atau gerakan orang lain. Selain di Indonesia, penyakit ini hanya ditemukan pada suku Ainu di Jepang, masyarakat gurun pasir di Gobi, dan sebuah suku di Perancis. Di Indonesia sendiri, awalnya penyakit ini hanya ditemui pada suku-suku di Pulau Jawa, Sumatera, dan pedalaman Kalimantan. Namun, lama-kelamaan penyakit latah tersebut di Indonesia dianggap keren dan menjadi trend, terutama di kalangan selebriti. Sebagian kaum selebriti memanfaatkan latah sebagai modal ketenaran atau ciri khas selaku entertainer.
9. Tanggal 17 Agustus
17 Agustus adalah tanggal Kemerdekaan Republik Indonesia, namun juga tanggal wafatnya pencetus pilar Indonesia yang salah satunya, adalah pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya", Wage Roedolf Soepratman yang wafat pada tanggal 17 Agustus 1937 dan pencetus ilmu Bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk yang wafat pada tanggal 17 Agustus 1894.
10. Menteri Orang Indonesia Asli
Setelah 43 tahun merdeka, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar "orang Indonesia asli". Hal itu karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum Indonesia merdeka (17 Agustus 1945). Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu.
"Orang Indonesia asli" pertama yang menjadi menteri adalah Ir. Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945),yaitu sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).
11. Ramah
Selain karena keindahan alamnya, banyak wisatawan mancanegara memuji keramahan masyarakat Indonesia. Berdasarkan survey The Smiling Report 2009, Indonesia adalah negara paling murah senyum di dunia. Indonesia, bersama Hongkong, juga dinobatkan sebagai negara yang terbaik dalam mengucapkan salam. Namun hal ini tidak diikuti dengan pengelolaan yang baik terhadap industri pariwisatanya. Buruknya birokrasi dan tingginya tingkat korupsi juga sangat menakutkan bagi para investor untuk berbisnis di negara paling murah senyum ini.
12. Pusat Perbelanjaan
Jakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia memiliki tata ruang yang sangat sangat sangat berantakan. Di kota ini berdiri 130 pusat perbelanjaan,yaitu yang terbanyak diantara kota-kota besar lainnya di seluruh dunia. Banyak wilayah di Jakarta yang tadinya direncanakan untuk kawasan hunian, konservasi, bahkan resapan air namun akhirnya diubah menjadi pusat perbelanjaan.
13. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)
Sampai sekarang ini, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang pernah keluar dari PBB. Bergabung pertama kali pada tahun 1950 sebagai anggota ke-60 PBB, kemudian Indonesia menarik keanggotaannya pada tahun 1965. Soekarno, presiden Indonesia saat itu sangat berang dengan keputusan PBB mengakui kedaulatan Malaysia dan menjadikan Malaysia anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Lalu kemudian Soekarno mendirikan Conference of The New Emerging Forces (CONEFO) atau Konferensi Negara-Negara Kekuatan Baru sebagai tandingan PBB. Sebelum keluar dari PBB, Soekarno sempat menyampaikan pidato dengan berapi-api di Sidang Umum PBB yang isinya meminta agar badan dunia tersebut dipindahkan markas besarnya ke luar Amerika Serikat. Bukan hanya pidatonya saja yang berhasil mendapat berkali-kali tepukan tangan, namun Soekarno juga sukses menyelenggarakan GANEFO (Games of The New Emerging Forces), yaitu perhelatan Olimpiade versi CONEFO yang diikuti 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing. Saat-saat itulah terakhir kali Indonesia memiliki pemimpin superpower dan menjadi salah satu negara yang paling disegani di seluruh dunia.
14. Hewan
Indonesia memiliki kekayaan fauna yang luar biasa. Hewan purba yang masih hidup di Indonesia adalah komodo, kadal terbesar di dunia dengan berat 90kg dan panjang 3 meter yang Pulau tempat habitatnya, Pulau Komodo, menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Terdapat juga ikan terkecil di dunia sebesar nyamuk yang ditemukan pada Laut di Pulau Sumatra. Di Sulawesi, masih hidup namun hampir punah yaitu primata terkecil di dunia yang mirip monyet yakni Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Di pulau yang sama ditemukan pula ular terpanjang di dunia sepanjang 10 meter yaitu Python Reticulates.
15. Suku & Bahasa
Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki suku bangsa terbanyak di dunia, dengan lebih dari 740 suku bangsa/etnis, maka dari itu tidak heran bahwa Indonesia juga merupakan negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yakni 583 bahasa dan dialek. Sadar bahwa bentrokan antar etnis sangat berpotensi terjadi, maka pendiri Republik ini menyepakati semboyan bangsa "Bhinneka Tunggal Ika" yang artinya "Berbeda-beda tapi tetap satu jua".
16. Ramalan Tentang Pemimpin
Indonesia termasuk negara yang kaya dengan dunia mistis , termasuk soal ramal-meramal. Salah satunya tercatat nama Prabu Jayabaya, yang memerintah Kerajaan Kediri sekitar tahun 400 Masehi. Dari sekian banyak ramalannya, yang sangat tersohor adalah ramalan tentang siapa orang yang akan memimpin Indonesia
Pemimpin pertama yakni Soekarno, digambarkan sebagai orang yang :
> Memakai kopiah warna hitam (kethu bengi)
> Sudah tidak punya ayah (yatim)
> Suaranya menggelegar
> Berkharisma
> Bergelar serba mulia (Pemimpin Besar Revolusi dan Panglima Tertinggi ABRI)
> Kebal terhadap berbagai senjata (sering lolos dari percobaan pembunuhan)
> Punya kelemahan mudah dirayu wanita cantik
> Tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang mengelilingi rumah beliau (mundurnya Soekarno karena di demo para pelajar dan mahasiswa)
> Sering mengumpat orang asing (anti imperialisme)
Pemimpin kedua yakni Soeharto, digambarkan sebagai orang yang :
> Didukung oleh "Kartikapaksi" (lambang yang digunakan ABRI)
> Memakai topi baja hijau atau tutup kwali lumuten (militer)
> Kaya raya
> Menjadi pemimpin dunia (Soeharto menggagas membentuk ASEAN, dimana konon menurut sejarahnya, ASEAN merupakan kesatuan dari kerajaan Majapahit)
> Digantikan oleh "Raja dari negeri seberang" (Soeharto digantikan oleh BJ. Habibie yang berasal dari Nusa Srenggi, Sulawesi).
Dan yang paling terkenal dan masih menjadi misteri adalah ramalan tentang Satriya Piningit. Dalam ramalan itu, Satriya Piningit sudah tidak punya ayah dan ibu, telah lulus Weda Jawa, bersenjatakan Trisula yang baru akan keluar setelah terjadi musibah dan bencana yang besar. Dalam perjalanan hidupnya. ia dituliskan akan mengalami kesengsaraan, selalu dipermalukan, sial dan miskin. Oleh karena itulah ia dijuluki "Satrio Wiragung" (Sang Kesatria Agung).
Ramalan Jayabaya yang tak kalah terkenalnya pula adalah 2 huruf akhir/sebagian kata nama pemimpin Indonesia yang dirangkum dalam sebuah kata NOTO NEGORO. Dan hal itu sudah pula terbukti dengan 3 periode masa pemerintahan presiden Indonesia, yaitu: SoekarNO, SoeharTO, Susilo Bambang YudhoyoNO. Bagaimana dengan BJ Habibie, Megawati dan Gus Dur/Abdurahman Wahid?? 3 Presiden itu tidak dihitung karena tidak memerintah selama 1 masa pemerintahan penuh. Konon katanya seorang presiden yang akan menjadikan Indonesia makmur dan sejahtera, dipandang dunia dan dihormati adalah seorang presiden dengan huruf akhir "NE" dan "GO".
Demikian dari beberapa hal yang kami ketahui, semoga bermanfaat untuk para pembaca.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

By Dede Zoi Mahanda (15)

Kerajaan pajang


KERAJAAN PAJANG
Kerajaan Pajang
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHcZ1eQTyOJDJId6aW_ipy7-hZ8h7HYu5v7HVKy6wJ-1Wl07-28EKlRjzbR3FZ6uPDNMvujwN_U1wGr7HJDDrA4QkZsfQenTGfljuo6BffT7b6XQD1ATK4c2vh0E8EDsJPfR8nL-r8vrgC/s1600/nasi-kikil-khas-jombang.jpg
Kerajaan Pajang adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kerajaan Demak. Kompleks keraton, yang sekarang tinggal batas-batas fondasinya saja, berada di perbatasan Kelurahan Pajang, Kota Solo dan Desa Makam haji,Karatsura,Sukoharjo. Berikut ini Kumpulan Sejarah akan menyajikan informasi selengkapnya mengenai Sejarah Kerajaan Pajang

AWAL BERDIRI KERAJAAN PAJANG

Pada abad ke-14 Pajang sudah disebut dalam kitab Negarakertagama karena dikunjungi oleh Hayam Wuruk dalam perjalanannya memeriksa bagian Barat. Antara abad ke-11 dan 14 di Jawa Tengah Selatan tidak ada Kerajaan tetapi Majapahit masih berkuasa sampai kesana. Sementara itu, di Demak mulai muncul Kerajaan kecil yang didirikan oleh tokoh-tokoh beragama Islam. Namun, sampai awal abad ke-16 kewibawaan raja Majapahit masih diakui.
Sejarah Kerajaan Pajang
Baru pada akhir abad ke 17 dan awal abad ke-18 para penulis kronik di Kartasura menulis seluk beluk asal usul raja-raja Mataram dimana Pajang dilihat sebagai pendahulunya. Pajang sendiri sebagai kelanjutan dari Pengging pada tahun 1618 yang pernah dihancurkan ibukota dan sawah ladangnya oleh pasukan-pasukan dari Mataram karena memberontak. Di bekas kompleks keraton Raja Pajang yang dikubur di Butuh banyak ditemukan sisa-sisa keramik asal negeri Cina.

Ceritera mengenai sejarah Pajang malah termuat dalam kitab Babad Banten yang menyebutkan Ki Andayaningrat berputera 2 orang yaitu, Kebo Kenanga dan Kebo Kanigara. Meskipun Majapahit ambruk pada tahun 1625, Pengging dibawah Kebo Kenanga berdaulat terus hingga pertengahan abad ke-16. untuk menundukkan pengging Raja Demak memanfaatkan jasa Ki Wanapala dan Sunan Kudus, dengan cara pendahuluan berupa adu kekuatan ngelmu.

Dua tahun kemudian, Kebo Kenanga berhasil dibunuh sedangkan anak laki-lakinya yaitu Jaka Tingkir kelak mengabdi ke Istana Demak untuk akhirnya mendirikan Kerajaan Pajang dengan sebutan Adi Wijaya.

RAJA-RAJA YANG MEMERINTAH DI KERAJAAN PAJANG

Jaka Tingkir

Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir.[1] Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.

Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kesultanan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir). Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.

Silsilah Jaka Tingkir :
Andayaningrat (tidak diketahui nasabnya) + Ratu Pembayun (Putri Raja Brawijaya)→ Kebo kenanga (Putra Andayaningrat)+ Nyai Ageng Pengging→ Mas Karebet/Jaka Tingkir.

Meski dalam Babad Jawa, Adiwijaya lebih dilukiskan sebagai Raja yang serba lemah, tetapi kenyataannya sebagai ahli waris Kerajaan Demak ia mampu menguasai pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan baik. Perpindahan pusat Kerajaan ke pedalaman yang dilanjutkan lagi oleh Raja Mataram berpengaruh besar atas perkembangan peradaban Jawa pada abad ke-18 dan 19.

Daerah kekuasaan Pajang mencakup di sebelah Barat Bagelen (lembah Bogowonto) dan Kedu (lembah Progo atas).

Di zaman Adiwijaya memerintah Pajang, yaitu pada tahun 1578 seorang tokoh pemimpin Wirasaba, yang bernama Wargautama ditindak oleh pasukan-pasukan kerajaan dari pusat. Berita dari Babad Banyumas ini menunjukkan masih kuatnya Pajang menjelang akhir pemerintahan Adiwijaya. Kekuasaan Pajang ke Timur meliputi wilayah Madiun dan disebutkan bahwa Blora pada tahun 1554 menjadi rebutan antara  Pajang dan Mataram.

Ada dugaan bahwa Adiwijaya sebgai raja islam berhasil dalam diplomasinya sehingga pada tahun 1581, ia diakui oleh raja-raja kecil yang penting dikawasan Pesisir Jawa Timur. Untuk peresmiannya pernah diselenggarakan pertemuan bersama di istana Sunan Prapen di Giri, hadir pada kesempatan itu para Bupati dari Jipang, Wirasaba (Majaagung), Kediri, Pasuruan, Madiun, Sedayu, Lasem,Tuban, dan Pati. Pembicara yang mewakili tokokh-tokoh Jawa Timur adalah Panji Wirya Krama, Bupati Surabaya. Disebutkan pula bahwa Arosbaya (Madura Barat) mengakui Adiwijaya sehubunga dengan itu bupatinya bernama Panembahan Lemah Duwur diangkat menantu Raja Pajang.

Arya Pangiri

Arya Pangiri adalah putra Sunan Prawoto raja keempat Demak, yang tewas dibunuh Arya Penangsang tahun 1549. Ia kemudian diasuh bibinya, yaitu Ratu Kalinyamat di Jepara.

Arya Penangsang kemudian tewas oleh sayembara yang diadakan Hadiwijaya bupati Pajang. Sejak itu, Pajang menjadi kerajaan berdaulat di mana Demak sebagai bawahannya. Setelah dewasa, Arya Pangiri dinikahkan dengan Ratu Pembayun, putri tertua Sultan Hadiwijaya dan dijadikan sebagai bupati Demak.

Sepeninggal Sultan Hadiwijaya akhir tahun 1582 terjadi permasalahan takhta di Pajang. Putra mahkota yang bernama Pangeran Benawa disingkirkan Arya Pangiri dengan dukungan Sunan Kudus. Alasan Sunan Kudus adalah usia Pangeran Benawa lebih muda daripada istri Pangiri, sehingga tidak pantas menjadi raja.

Pangeran Benawa yang berhati lembut merelakan takhta Pajang dikuasai Arya Pangiri sedangkan ia sendiri kemudian menjadi bupati Jipang Panolan (bekas negeri Arya Penangsang).

Tokoh Sunan Kudus yang diberitakan Babad Tanah Jawi perlu dikoreksi, karena Sunan Kudus sendiri sudah meninggal tahun 1550. Mungkin tokoh yang mendukung Arya Pangiri tersebut adalah penggantinya, yaitu Panembahan Kudus, atau mungkin Pangeran Kudus Arya Pangiri menjadi raja Pajang sejak awal tahun 1583 bergelar Sultan Ngawantipura. Ia dikisahkan hanya peduli pada usaha untuk menaklukkan Mataram daripada menciptakan kesejahteraan rakyatnya. Dia melanggar wasiat mertuanya (Hadiwijaya) supaya tidak membenci Sutawijaya. Ia bahkan membentuk pasukan yang terdiri atas orang-orang bayaran dari Bali, Bugis, dan Makassar untuk menyerbu Mataram.

Arya Pangiri juga berlaku tidak adil terhadap penduduk asli Pajang. Ia mendatangkan orang-orang Demak untuk menggeser kedudukan para pejabat Pajang. Bahkan, rakyat Pajang juga tersisih oleh kedatangan penduduk Demak. Akibatnya, banyak warga Pajang yang berubah menjadi perampok karena kehilangan mata pencaharian. Sebagian lagi pindah ke Jipang mengabdi pada Pangeran Benawa.

Pangeran Benawa

Pangeran Benawa adalah raja ketiga Kesultanan Pajang yang memerintah tahun 1586-1587, bergelar Sultan Prabuwijaya.

Pangeran Benawa adalah putra Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir, raja pertama Pajang. Sejak kecil ia dipersaudarakan dengan Sutawijaya, anak angkat ayahnya, yang mendirikan Kesultanan Mataram.

Pangeran Benawa memiliki putri bernama Dyah Banowati yang menikah dengan Mas Jolang putra Sutawijaya. Dyah Banowati bergelar Ratu Mas Adi, yang kemudian melahirkan Sultan Agung, raja terbesar Mataram.

Selain itu, Pangeran Benawa juga memiliki putra bernama Pangeran Radin, yang kelak menurunkan Yosodipuro dan Ronggowarsito, pujangga-pujangga besar Kasunanan Surakarta. Pangeran Benawa dikisahkan sebagai seorang yang lembut hati. Ia pernah ditugasi ayahnya untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya terhadap Pajang. Waktu itu Benawa berangkat bersama Arya Pamalad (kakak iparnya yang menjadi adipati Tuban) dan Patih Mancanegara.

Sutawijaya menjamu ketiga tamunya dengan pesta. Putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga tidak sengaja membunuh seorang prajurit Tuban, membuat Arya Pamalad mengajak rombongan pulang.

Sesampai di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, bahwa Mataram berniat memberontak terhadap Pajang. Sementara itu Benawa melaporkan kebaikan Sutawijaya, bahwa terbunuhnya prajurit Tuban karena ulahnya sendiri.

Sutawijaya akhirnya terbukti memerangi Pajang tahun 1582, dan berakhir dengan kematian Sultan Hadiwijaya. Pangeran Benawa yang seharusnya naik takhta disingkirkan oleh kakak iparnya, yaitu Arya Pangiri adipati Demak.

Benawa kemudian menjadi adipati Jipang Panolan. Pada tahun 1586 ia bersekutu dengan Sutawijaya untuk menurunkan Arya Pangiri dari takhta, karena kakak iparnya itu dianggap kurang adil dalam memerintah.

Dikisahkan, Arya Pangiri hanya sibuk menyusun usaha balas dendam terhadap Mataram. Orang-orang Demak juga berdatangan, sehingga warga asli Pajang banyak yang tersisih. Akibatnya, penduduk Pajang sebagian menjadi penjahat karena kehilangan mata pencaharian, dan sebagian lagi mengungsi ke Jipang.

Persekutuan Benawa dan Sutawijaya terjalin. Gabungan pasukan Mataram dan Jipang berhasil mengalahkan Pajang. Arya Pangiri dipulangkan ke Demak. Benawa menawarkan takhta Pajang kepada Sutawijaya. Namun Sutawijaya menolaknya. Ia hanya meminta beberapa pusaka Pajang untuk dirawat di Mataram. Sejak itu, Pangeran Benawa naik takhta menjadi raja baru di Pajang bergelar Sultan Prabuwijaya.

BERBAGAI ASPEK PADA KERAJAAN PAJANG

Aspek Sosial Budaya

Pada zaman Pakubuwono I dan Jayanegara bekerja sama untuk menjadikan Pajang semakin maju dibidang pertanian sehingga Pajang menjadi  lumbung beras pada abad ke-16 sampai abad 17, kerja sama tersebut saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kehidupan rakyat Pajang mendapat pengaruh Islamisasi yang cukup kental sehingga masyarakat Pajang sangat mengamalkan syariat Islam dengan sungguh-sungguh.

Aspek Ekonomi


Pada zaman Paku Buwono 1 (1708) ketika Ibukota Mataram masih ada di Kartasura, ada kerjasama yang baik antara Surakarta pusat dengan Jayengrana bupati Surabaya. Pada masa itu seluruh Jawa Timur kompak dalam mendukung kerjasama antara PakuBuwono 1 dan Jayengrana.

Pajang mengalami kemajuan di bidang pertanian sehingga menjadi lumbung beras dalam abad ke-16 dan 17. Lokasi pusat kerajaaan Pajang ada di dataran rendan tempat bertemunya sungai Pepe dan Dengkeng (ke dua-duanya bermata air di lereng gunung Merapi) dengan bengawan sala. Irigasi berjalan lancar karena air tanah di sepanjan tahun cukup untuk mengairi sehingga pertanian di Pajang maju.

Di zaman Kerajaan Demak baru muncul, Pajang telah mengekspor beras dengan mengangkutnya melalui perniagaan yang berupa Bengawan Sala. Sejak itu Demak sebagai negara maritim menginginkan dikuasainya lumbung-lumbung beras di pedalaman yaitu Pajang dan kemudian juga mataram, supaya dengan cara demikian dapat berbentuk negara ideal agraris maritim.

Aspek Politik

Arya Penangsang membuat saluran air melingkari Jipang Panolan dan dihubungkan dengan Bengawan Solo.  Karena pada sore hari air Bengawan Solo pasang maka air di saluran juga mengalami pasang. Oleh karena itu saluran tersebut dikenal dengan nama Bengawan Sore. Sebetulnya Arya Penangsang sudah tidak berhak mengklaim tahta Demak kepada Sultan Hadiwijaya, karena Pajang adalah sebuah kerajaan tersendiri. Akan tetapi dendamnya kepada putera dan mantu Sultan Trenggono belum pupus. Dia kembali mengirim pembunuh gelap untuk membunuh Sultan Hadiwijaya, mengulangi keberhasilan pembunuhan terhadap Sunan Prawata. Akan tetapi pembunuhan tersebut tidak berhasil.

Dikisahkan Sunan Kalijaga memohon kepada Sunan Kudus agar para sepuh, Wali sebagai ulama dapat menempatkan diri sebagai orang tua. Tidak ikut campur dalam urusan “rumah tangga” anak-anak. Biarkanlah Arya Penangsang dan Hadiwijaya menyelesaikan persoalanya sendiri. Dan yang sepuh sebagai pengamat. Sunattulah akan berlaku bagi mereka berdua, ‘Sing becik ketitik sing ala ketara’. Wali lebih baik mensyi’arkan agama tanpa menggunakan kekuasaan. Biarkanlah urusan tata negara dilakukan oleh ahlinya masing-masing. Wali adalah ahli da’wah bukan ahli tata negara. Jangan sampai  para Wali terpecah belah karena berpihak kepada salah satu diantara mereka. Apa kata rakyat jelata, jika melihat para Wali ‘udreg-udregan’, sibuk berkelahi  sendiri.

Hampir semua Guru menyampaikan: “Setelah tidak ada aku nanti, mungkin pentolan-pentolan kelompokku sudah tidak punya ‘clash of vision’, tetapi mereka tetap punya ‘clash of minds’, ‘clash of egoes’, mereka merasa bahwa tindakan yang dipilihnya benar menurut pemahamannya, dan kalian akan melihat banyaknya aliran muncul”. seandainya Guru masih hidup maka kebenaran dapat ditanyakan dan tidak akan ada permasalahan. Mereka yang gila kekuasaan menggunakan pemahaman terhadap wasiat Guru sebagai alat untuk membangun kekuasaan. Yang terjadi bukan perang berdasarkan perbedaan keyakinan,  tetapi perebutan kekuasaan menggunakan perbedaan pemahaman atau keyakinan sebagai alat yang ampuh.

Dikisahkan Sunan Kudus sebagai Guru Sultan Hadiwijaya, mengundang Sultan untuk datang ke Kudus untuk mendinginkan suasana. Pada saat itu terjadi perang mulut antara Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya dan mereka saling menghunus keris. Konon Sunan Kudus berteriak: “Apa-apaan kalian! Penangsang cepat sarungkan senjatamu, dan masalahmu akan selesai!” Arya Penangsang patuh dan menyarungkan keris ‘Setan Kober’nya. Setelah pertemuan usai, konon Sunan Kudus menyayangkan Arya Penangsang, maksud Sunan Kudus adalah menyarungkan keris ke tubuh Sultan Hadiwijaya dan masalah akan selesai.

Akhirnya Arya Penangsang dengan kuda ‘Gagak Rimang’nya dipancing dengan kuda betina Sutawijaya yang berada di luar Bengawan Sore atas saran penasehat Ki Gede Pemanahan dan ki Penjawi. Dan, Arya Penangsang  menaiki ‘Gagak Rimang’ yang bersemangat menyeberangi Bengawan Sore. Begitu berada di luar Bengawan Sore kesaktian Arya Penangsang  berkurang yang akhirnya dia dapat terbunuh. Atas jasanya Ki Penjawi diberi tanah di Pati dan Ki Gede Pemanahan diberi tanah di Mentaok, Mataram. Sutawijaya adalah putra Ki Gede Pemanahan dan merupakan putra angkat Sultan Hadiwijaya sebelum putra kandungnya,  Pangeran Benawa lahir. Sutawijaya konon dikawinkan dengan putri Sultan sehingga Sutawijaya yang akhirnya menjadi  Sultan Pertama Mataram yang bergelar Panembahan Senopati, anak keturunannya masih berdarah Raja Majapahit.

KEMUNDURAN KERAJAAN PAJANG


Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin. Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga. Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya. Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati

Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

by Muhammad Bushronul Akbar (27)


Diberdayakan oleh Blogger.